Monday, June 8, 2009

Presentasi Biasa-Biasa Saja, Unjuk Kreasi Seni Bikin Minder; Mengintip Perjuangan Haukil Memenangi Dua LKTI dalam Ajang Berbeda (2)

Seperti halnya pada Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diadakan oleh Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Haukil mengaku tidak memiliki persiapan khusus menghadapi pertanggungjawaban karyanya di ajang LKTI ke-9 tingkat nasional yang diadakan oleh Magistra Utama, Malang, Selasa, 26 Mei 2009. Intinya, bisa mempresentasikan karyanya dengan lancar. Dan ini tidak membutuhkan latihan yang ketat karena sudah terbiasa berhadapan dengan juri. Hanya persoalan teknis yang mengharuskan ia bekerja ekstra. Tidak seperti di IAIN, di Magistra ia mempresentasikan karyanya dengan format power point. Haukil mengaku tidak paham seluk-beluk program tersebut, sehingga harus meminta bantuan orang lain. Persiapan inilah yang membuat sedikit waktunya tersita.

Saat hari presentasi digelar, seharusnya Haukil berada di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Hari tersebut merupakan penahbisan dirinya menjadi juara I LKTI tingkat Jatim pada acara “Pesantren Fiar 2009”, yang diadakan oleh Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Namun, karena tidak bisa diwakilkan ia pun harus berangkat ke Malang setelah sebelumnya pulang terlebih dahulu untuk persiapan.

Dalam even tersebut, Haukil berhasil menyabet peringkat II untuk kategori juara II. Menurut Ketua Perpustakaan Lubangsa Selatan ini, Penetuan juara memang agak berbeda dengan penentuan pada even-even yang pernah diikutinya. Sistem yang dipakai adalah sistem peringkat. Pringkat I untuk satu orang, peringkat dua untuk tiga orang, dan peringkat tiga untuk tiga orang juga. Haukil berada di urutan dua untuk kategori peringkat II, diapit oleh peserta dari Pematang Siantar dan Ponorogo. Dan Peringkat I diraih oleh kelompok siswa dari Denpasar, Bali. Peserta yang ikut dalam perhelatan tersebut merupakan perwakilan dari beberapa SLTA yang tersebar di seluruh Nusantara. Diantaranya, dari Ciamis, Paiton, Bali, Madura, Jogjakarta, Ponorogo, Pasuruan, dan beberapa daerah lainnya.

Sebagaimana pernah diberitakan media ini beberapa waktu lalu, Haukil memberi judul atas karyanya, Menjadi Pembelajar Di “Universitas Besar Kehidupan.” Karya dengan ketebalan 44 halaman tersebut membeber konsep tentang pembelajaran seumur hidup. Active Lerning, begitu ia lebih suka menyebutnya. Pembelajaran seumur hidup baginya adalah pembelajaran yang tidak mengenal kata berhenti. Ruang dan waktu bukan alasan bagi seseorang untuk berhenti mencari ilmu. Dan arena belajar tidak harus sekolah, dimana pun bisa!

Dalam proses seleksi naskah sebelumnya, Haukil berhasil menyisihkan sedikitnya 207 naskah dari 223 naskah yang masuk ke panitia. Kemudian, 15 naskah yang tersisa diminta panitia kepada masing-masing penulisanya untuk dipresentasikan pada tanggal 26 Mei 2009.

Haukil mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan empat orang dewan juri. Mereka merupakan pakar-pakar pendidikan dan dosen dari berbagai perguruan tinggi di Malang. Seperti halnya di IAIN, Haukil mengaku tidak ada pengalaman istimewa saat presentasi berlangsung. Hanya saja, akunya, pertanyaan-pertanyaan dewan juri sedikit membuat ia kewalahan. Beberapa gagasan belum bisa ia cerna dengan sempurna.

Satu hari sebelum presentasi, yaitu tanggal 25 Mei 2009, Haukil memulai dengan technical meeting. Hari itu juga ia diharuskan menampilkan unjuk kreasinya. Tidak seperti berita sebelumnya, Haukil merubah keinginan dari tampil monolog menjadi hanya membaca puisi. Dua buah sajak ia bacakan dalam acara tersebut yang kesemuanya ditulis oleh Joko Pinurbo, masing-masing berjudul “Celana (I)” dan “Celana (II)”. Haukil merasa minder dengan penampilannya sendiri. Ia melihat penampilannya jauh dari kesan bagus ketimbang penampilan-penampilan kontestan lain. Ia mencontohkan, penampilan beberapa kelompok SMA yang mengusung kebudayaan masing-masing tanah kelahirannya. Diantaranya, tari-tarian, Kuda Lumping, Teater, dan beberapa penampilan bagus lainnya. Memang tak semua kontestan bisa menampikan kreasinya dengan apik. Bahkan, ada yang bisa dikata lebih jelek dari penampilan Haukil. Namun, bagi Haukil, mestinya ia bisa lebih baik dari penampilan tersebut.

Ia mengakui tidak ada persiapan sama sekali dalam acara unjuk kreasi seni tersebut. “Awalnya memang sempat ingin menampilkan monolog, tapi ternyata sangat sulit.. Akhirnya jatuh kepilihan membaca puisi,” tandas remaja 18 tahun ini. Baca puisi menjadi pilihan karena menurut ia tidak membutuhkan waktu panjang untuk latihan dan lebih mudah dilakukan. Namun, hasilnya ternyata belum memuaskannya.

Selain memberikan juara pada acara tersebut, pihak Magistra Utama juga akan mengunjungi sekolah-sekolah yang anak didiknya berhasil menjadi juara. Magistra akan memberikan penghargaan kepada sekolah tersebut secara simbolis. Ditanya kapan mereka akan berkunjung? Haukil tidak bisa memastikan. “Pasti ada pemberitahuan sebelum mereka ke sini,” pungkasnya. (rozi) []
 
*) Digunting dari berita Pondok Pesantren Annuqayah 08 Juni 2009.

Sunday, June 7, 2009

Tidak Ada Persiapan Khusus, Presentasi Dibilang Hebat; Mengintip Perjuangan Haukil Memenangi Dua LKTI dalam Ajang Berbeda (1)

Memenangi Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) bagi Haukil mungkin bukan sesuatu yang istimewa lagi. Setidaknya, sudah enam kali ia berhasil pulang dengan predikat juara, baik tingkat kabupaten maupun nasional. Baru-baru ini ia kembali menyabet dua juara LKTI sekaligus pada even yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan. Bagaimana kesannya?

Tanggal 26 Mei 2009 menjadi momen bersejarah bagi lelaki kelahiran Aeng Panas, Pragaan ini. Tanggal tersebut merupakan tanggal penahbisan dirinya menjadi juara I LKTI tingkat Jawa Timur yang diadakan oleh Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Prestasi ini kian melengkapi deretan gelar yang sudah ia sandang sebelumnya.

Ditemui di Perpustakaan Jumat Malam, (05/06), Haukil mengaku, dirinya berhasil menyisihkan sedikitnya 35 orang yang ikut dalam lomba tersebut. Ke-35 orang itu melewati seleksi ketat hingga menjadi hanya tiga orang. Semua naskah yang masuk memang diharuskan presentasi tanpa harus melalui seleksi karya terlebih dahulu. “Sejelek-jelek naskah tetap harus presentasi,” ujar lelaki murah senyum ini. Haukil mengaku, sebelumnya ia tidak tahu kalau semua naskah harus dipresentasikan. Baru setelah sampai di sana ia tahu bahwa tidak ada seleksi karya.

Mereka yang berhasil menjadi juara antara lain, Haukil dari MA Tahfidz Annuqayah, Guluk-Guluk; Afifatul S. dari SMA Telkom, Jombang; dan Faizah dari MA Darul Ulum, Jombang. Mereka berhak atas tropi dan uang pembinaan dari pihak Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Haukil mengatakan, nyaris tidak ada persiapan khusus menghadapi lomba tersebut. Ia bahkan lebih fokus mempersiapkan presentasinya pada LKTI di Magistra Utama, Malang, yang jadwalnya hanya terpaut sedikit dengan acara di Surabaya tersebut. Untuk persiapan presentasi, ia hanya membaca naskahnya sesaat sebelum memulai presentasi. Baginya, target utama cuma tidak ingin kacau dalam presentasi. Selain karena sudah banyak paham dengan inti gagasan dalam tulisannya, ia pun tidak terlalu ambisius untuk memperoleh juara.

Di arena presentasi ia diuji oleh tiga orang dewan juri.. Menurutnya, tidak ada kendala berarti yang dihadapi dalam sesi yang sangat menentukan tersebut. Memang tidak semua pertanyaan bisa terjawab, namun sebagian besar ia bisa mengurainya dengan lancar. Selain paham materi, Haukil juga sudah terbiasa berhadapan dengan dewan juri pada even-even yang sama sebelumnya. Persoalan demam panggung tidak menjadi masalah berarti.. Ia juga merasakan tidak ada yang istimewa dalam presentasinya. “Perasaan saya biasa-biasa saja,” lanjutnya. Namun, menurut dia, seusai presentasi ada salah seorang penonton yang menghampirinya dan mengatakan bahwa presentasinya sangat hebat. Tanggapan itu sebelumnya dirasakan Haukil terutama saat ia membaca sebuah kaidah fikih. Penonton yang menyaksikan bertepuk tangan tanda kagum.

Karya yang diajukan Haukil dalam lomba tersebut berjudul, “Pesantren dan Anti Korupsi.” Karya setebal 11 halaman itu membincang tentang gagasan membangun fikih anti korupsi di Pesantren. Menurut Haukil, pendidikan anti korupsi akan lebih efektif bila didalangi oleh pesantren. Alasannya, pesantren sudah memiliki kans untuk mengaplikasikan konsep ini, yaitu sifat kesederhanaan, tidak hedonis, tidak materialis, kejujuran, kemandirian, kesabaran, dan keikhlasan. “Kantin-kantin kejujuran itu nanti tidak harus hanya ada di sekolah-sekolah negeri yang sekarang banyak kolaps, namun juga harus ada di pesantren,” lanjutnya.

Acara yang berlangsung dari tanggal 19-26 Mei 2009 tersebut tidak hanya untuk LKTI, namun ada juga lomba baca kitab kuning untuk kalangan pesantren dan Speak Contest untuk siswa SLTA. Acara tersebut diikuti oleh para santri dan siswa SLTA yang tersebar di Jawa Timur.

Acara yang mengambil tema “Pesantren Fair 2009” tersebut dipuncaki dengan dialog nasional bersama Ir. KH. Solahuddin Wahid. Saudara Gus Dur ini juga didaulat untuk memberikan hadiah kepada masing-masing pemenang lomba. Namun sayangnya, Haukil tidak bisa hadir pada acara tersebut karena harus mempersiapkan presentasi karyanya di Magistra Utama, Malang hari itu juga. Penerimaan hadiah ia wakilkan kepada salah seorang mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya, yang ia kenal saat berada di sana.

Selain kerap medulang prestasi, Haukil juga sering menerima pujian dari beberapa dewan juri dalam berbagai perhelatan LKTI. Misalnya saat lomba di Bogor, Sang Juri mengakui tulisan Haukil lebih bagus ketimbang tulisan anak didiknya di Institut Pertanian Bogor (IPB). (rozi) []
 
*) Digunting dari berita Pondok Pesantren Annuqayah 07 Juni 2008, dengan perbaikan seperlunya.

Saturday, May 2, 2009

Haukil Kembali Jadi Finalis LKTI Nasional

Mengulang kesuksesan pendahulunya, Ach. Fawaid, pada 2006, kini M. Haukil juga menjadi finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) IX 2009 yang diadakan oleh Magistra Utama, Malang, pada 31 Maret-26 Mei 2009. Empat tahun lalu, Ach. Fawaid, yang kini menjadi alumnus, berhasil pulang dengan menyabet juara II. Mampukah Haukil, sapaannya, pulang dengan keberhasilan yang sama, bahkan melebihi, pada kompetisi kali ini?

Ditemui di Perpustakaan Lubangsa Selatan Rabu siang, (29/4), Haukil mengatakan, pemberitahuan tentang nama-nama yang masuk nominasi sebagai finalis LKTI itu dikirim panitia melalui fax ke Madrasah Aliyah (MA) 1 Putri Annuqayah, karena MA 1 Putra, yang dikontak panitia, tidak memiliki fax. Haukil sendiri sebenarnya adalah siswa MA Tahfidz Annuqayah, akan tetapi panitia mengirim informasi ke pihak MA 1 Putra, karena dari sana juga mengirim kompetitor dalam ajang lomba tersebut walaupun belum masuk dalam daftar finalis. Pemberitahuan itu dikirim pada hari Ahad (26/4) dan sampai ke tangan Haukil keesokan harinya, Senin.

Lewat karyanya yang berjudul, Menjadi Pembelajar di “Universitas Besar Kehidupan”, Haukil berhasil menyisihkan sedikitnya 207 naskah dari 223 naskah yang masuk ke panitia. Dia menjadi finalis bersama 15 orang lainnya dari berbagai penjuru nusantara. Dialah satu-satunya peserta dari Madura yang lolos ke babak final. Lainnya tumbang di tingkat seleksi karya.

Menurut Haukil, konsep yang ditawarkan dalam karyanya adalah tentang pembelajaran seumur hidup kepada anak didik. Dia mengampanyekan konsep pembelajaran Active Learning dalam kehidupan mereka. Agar belajar tidak hanya berhenti pada ruang dan waktu. “Hidup adalah karya, bukan usia,” kata pria yang murah senyum ini, mengutip selarik sajak K. M. Faizi.

Haukil akan mempertanggungjawabkan karyanya di hadapan para juri pada 25-26 Mei 2009 yang akan datang. Dia menjadwal keberangkatannya pada 24 Mei 2009, satu hari sebelum acara berlangsung, untuk mempersiapkan segala keperluannya di rumah pamannya di Malang. Dia tidak ingin kecolongan kembali mewarnai kompetisinya, seperti yang terjadi beberapa bulan lalu saat akan presentasi karya tulisnya di Universitas Paramadina, Jakarta. Dia harus menelan pil pahit sebagai juara harapan II karena terlambat datang yang menyebabkan dirinya tidak bisa presentasi.

Selain presentasi, dia juga akan menampilkan kebolehan dalam berakting. Acara ini juga satu dari serangkaian program yang akan berlangsung pada acara tersebut. Ditanya apa yang akan ditampilkannya dalam unjuk kebolehan tersebut, Haukil mengatakan dirinya ingin menampilkan monolog, peran yang selama ini belum pernah dilakukannya. Alasannya, selain lebih mendidik, juga lebih atraktif dan menantang. Saat ini dia sedang menyiapkan naskah yang akan dilakoninya. Dan dalam waktu yang masih agak lama ini ia akan mempersiapkan segalanya dengan sangat matang. Secara keseluruhan persiapannya masih 50%, katanya. Itu karena, akunya, dia sedang sibuk dengan Ujian Nasinal (UN) dan mempersiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Perpustakaan Lubangsa Selatan yang tidak lama lagi akan digelar. Dia kebetulan saat ini menjabat sebagai ketua.

Haukil menargetkan dalam kompetisi ini dirinya harus menjadi juara I. Dia ingin mengungguli keberhasilan Ach. Fawaid pada empat tahun silam. Dia merasa kalau dirinya bisa menjadi juara I, berarti ada perkembangan. “Kalau tetap nomor dua, kan berarti mandeg,” lanjutnya. Dari rekam jejaknya, remaja yang masih berumur 18 tahun ini (lahir pada 16 Januari 1991), sudah menorehkan segudang prestasi, baik tingkat lokal maupun nasional. Dua kali menjadi juara I lomba LKTI se-Sumenep, masing-masing diadakan oleh Perpustakaan Daerah Sumenep, Agustus 2008, dan STKIP PGRI Sumenep, Juni 2008; juara I LKTI tingkat nasional di Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat, November 2008; juara harapan II penulisan esai tingkat SLTA se-Indonesia, Januari 2009 (tanpa presentasi) di Paramadina, Jakarta. Selain itu, karya-karyanya tersebar di beberapa media antara lain, Radar Madura, Tabloid Info, dan beberapa media online.

Ditanya tentang berapa jumlah hadiah untuk kompetisi kali ini, dia mengatakan bahwa jumlahnya tidak terlalu besar. Total hadiah sebanyak Rp. 19 juta. Namun jumlah itu dibagi-bagikan kepada 16 finalis. Untuk juara I hanya mendapatkan Rp. 2.250.000,-. Tapi meski tak sebesar yang diberikan oleh beberapa kompetisi lainnya, ia merasa bangga jika ia pulang dengan prestasi yang membanggakan. “Yang penting dapat juara. Hadiah sedikit tak jadi masalah. Hadiah itu nomor 23, tapi dari 1-22 tidak ada?” katanya lantas tertawa.

Kesibukan lain Haukil saat ini adalah mempersiapkan diri untuk menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu menjadi mahasiswa. Keinginan besarnya adalah kuliah di luar kota, yaitu Universitas Paramadina, Jakarta.. Dia ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional (HI). Berkat keberhasilannya menjadi juara pada kompetisi LKTI beberapa bulan lalu, membuatnya dibebaskan dari beban biaya dan persyaratan tes tulis. Saat ini dia hanya disibukkan dengan menyiapkan berkas-berkas administrasi. Jadi, setelah berkas administrasi rampung, dia hanya menunggu keputusan dari pihak kampus. (rozi) []

*) Digunting dari berita Pondok Pesantren Annuqayah 2 Mei 2009, dengan beberapa perbaikan seperlunya.

Monday, December 22, 2008

Siswa MA Tahfidh Meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah Se-Indonesia

GULUK-GULUK—Setelah cukup lama berpuasa prestasi, Kamis (23/11) bulan lalu MA Tahfidh Annuqayah membuktikan bahwa masih produktif melahirkan prestasi dengan dipanggilnya Moh. Hauqil (17), salah satu siswa MA Tahfidh Annuqayah, ke Bogor sebagai Finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat SLTA sederajat se-Indonesia dalam rangka memeriahkan Family and Consumer Expo 2008.

Lomba yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (HIMAIKO) dari Jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) ini dimeriahkan oleh beberapa acara sebelum dilaksanakannya pengumuman juara yang di antaranya, Technical Meeting, Presentasi Karya Tulis dan Seminar Nasional yang dihadiri oleh Mohammad Farhan, salah satu artis dan presenter terkemuka di Indonesia, yang berlangsung pada tanggal 27-29 November 2008 di Bogor.

Pada lomba yang bertema “Peran TV terhadap Pembentukan Karakter Remaja” ini, Hauqil—sapaan akrab Moh. Hauqil—dinobatkan sebagai juara pertama dengan judul tulisan “Melejitkan Remaja Berdaya Lewat Televisi Ramah Tonton”.

Hal ini disambut dengan gembira oleh seluruh civitas academica di MA Tahfidh. “Ini prestasi yang cukup membanggakan dari anak-anak meskipun para dewan guru harus menunggu lama. Dan prestasi ini perlu dicontoh oleh yang lain,” tutur K. Hasan Basrawi, guru Ilmu Nahwu dan Ilmu Tafsir MA Tahfidh.

Hal yang senada dituturkan oleh Rozi el Umam, salah satu siswa kelas akhir MA Tahfidh. “Saya bangga dengan prestasi Hauqil meskipun saya masih belum mampu untuk menirunya.” (matin) []

Dari kiri ke kanan: Fahmi, Haukil, Pak Utsman, berfoto di kantor MA Tahfidh Annuqayah Guluk-Guluk.

*) Digunting dari berita Pondok Pesantren Annuqayah 22 Desember 2008.

Sunday, May 4, 2008

Pelajaran berharga bagi bangsa indonesia

Pro dan kontra atas penuntutan keadilan kasus hukum Pak Harto tak kunjung reda. Pihak pro tetap bertahan pada prinsipnya untuk terus menuntut kasus hukum Pak Harto. Begitu pula pihak kontra, tetap bersikukuh dan mendesak pemerintah agar membebaskan dan memaafkan Pak Harto.

Pak Harto sekarang sudah tiada. Beliau pergi meninggalkan kita semua, meninggalkan bangsa dan negara yang pernah dipimpinnya. Maka, akankah hukum itu ditiadakan pula? Haruskah kita membiarkan hukum tersebut pergi bersama Pak Harto?

Jika Pak Harto terbukti bersalah, hal itu jangan sampai terjadi. Pak Harto boleh meninggal. Tapi, bagaimanapun dan sampai kapan pun, hukum harus tetap berjalan. Jangan biarkan hukum terkubur seiring dengan kepergian Pak Harto. Ingat, negara kita adalah negara hukum!

Selain itu, yang paling penting, hal ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh bangsa Indonesia. Bahwa, kalau terbukti bersalah, bagaimanapun, sampai kapan pun, dan siapa pun orangnya akan tetap diadili. Dengan demikian, berbagai bentuk pelanggaran dan penyelewengan tidak terus-menerus mendera negeri tercinta ini.

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos rubrik "Gagasan" edisi Selasa, 02 Januari 2008.

Wednesday, April 23, 2008

Belajar pada manajemen pemasaran rokok


Dalam hal membaca, Taufiq Ismail menyebut pelajar Indonesia sebagai generasi 0 buku. Sementara dalam hal merokok, sebagaimana dalam Global Youth Tobacco Survey 2007, jumlah perokok pelajar Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia. Sebuah kenyataan yang memprihatinkan.

Hal itu hendaknya menjadi perhatian semua pihak, terutama mereka yang mengatasnamakan dirinya praktisi pendidikan. Mereka dituntut bisa menggiring kegemaran para pelajar dari rokok ke buku. Bagaimanapun, buku jauh lebih baik daripada rokok dalam segala hal, lebih-lebih bagi kaum pelajar.

Caranya, mereka (praktisi pendidikan) harus banyak belajar pada manajemen pemasaran rokok. Seperti halnya membuat iklan-iklan menarik baik di televisi, poster-poster, dan sebagainya yang sekiranya bisa dengan mudah dijumpai banyak orang. Terutama, orang-orang miskin yang terbukti mendominasi jumlah kaum perokok Indonesia.

Terus terang, selama ini iklan-iklan menarik mengenai buku nyaris tak pernah ada. Kalaupun ada, itu sebatas pameran, bazar, yang kehadirannya tidak bisa dinikmati orang banyak, dan itu pun jarang diadakan.

* Tulisan ini diterbitkan di Harian Jawa Pos, rubrik "Gagasan" edisi Rabu, 16 Januari 2008.

Friday, April 11, 2008

Yuk, ke perpustakaan!

“Pengetahuan sebagian besar tidak didapatkan dari bangku sekolah,
melailnkan dari buku”
(Ajib Rosidi)

“Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukanlah sekolah,
pelajar tanpa buku bagiku bukanlah pelajar”
(Minda Perangin Angin)

Pernyataan Ajib Rosidi dan curhat Minda Perangin Angin tersebut menegaskan betapa pentingnya arti perpustakaan dan membaca buku, yang pada kenyataannya dapat melebihi kegiatan formal (sekolah) dan instruksi guru yang cenderung stagnan dan statis. Bahkan, dalam buku Sekolah Saja tak Pernah Cukup, Andrias Harefa mengilustrasikan guru sebagai pengusaha dalam struktur kerajaan dengan ajaran terkenalnya the king can do wrong, seorang manusia yang seakan tak pernah salah dalam menyiasati proses pembelajaran.

Terus terang, selama ini kita kelelahan karena aspirasi yang tak kesampaian. Aspirasi akan penolakan kita terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan yang terkadang tak sesuai dengan harapan. Aspirasi kita sebagai penikmat pendidikan yang tak kunjung digubris oleh para pembuat kebijakan. Mereka menganggap kita sebagai kaum bisu!

Tentu kita merasa prihatin dengan pendidikan kita yang berkembang saat ini. Kebanyakan sekolah-sekolah kita—diakui atau tidak—terjebak dalam metode pendidikan yang paternalistik, yang menempatkan sebagai objek pendidikan, instruksional, dan antidialog. Murid hanya berperan sebagai “gentong kosong” yang tak berdaya. Demikian pula hadirnya Ujian Nasional (UNAS) yang kontroversial, turut mewarnai dunia pendidikan kita yang sudah carut-marut ini. Bayagkan, kemampuan siwa diuji dengan tiga materi pelajaran, itu pun semuanya pelajaran eksakta. Ini sangat jelas tidak akan pernah mengacu pada terwujudnya tujuan UNAS itu sendiri untuk mengukur keberhasilan pendidikan kita. Mungkinkah keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan tiga materi pelajaran? Para pembuat kebijakan tak pernah mengubris seruan ini.

Benang kusut buku pelajaran juga turut melengkapi beban pendidikan kita. hasil pengamatan Darmaningtyas akan buku pelajaran, tepatnya pada tahun 2005 lalu, mendapatkan bahwa mekanisme pengadaan buku pelajaran penuh dengan nuansa bisnis. Mutu buku kurang begitu diperhatikan oleh para penerbit yang “mata duitan”. Sehingga kemudian, buku pelajaran yang seharusnya mendidik dan mencerdaskan murid, justru membodohkan dan bahkan menyesatkan murid. Apakah dengan bermacam fenomena krusial semacam ini kita “lebih baik tidak sekolah?”.

Jika di sekolah tidak terjad proses pendidikan dan pembelajaran yang benar, bahkan membelenggu kreatifitas, mengasingkan dari realitas, mengerdilkan idealisme, membuat bingung, cemas dan lemah, tentu “lebih baik tidak sekolah”. Karena belajar yang sesungguhnya bisa terjadi dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun ketika ada kemauan yang kuat untuk membengun kompetensi diri (Sujono Samba, Lebih Baik tidak Sekolah, Yogyakarta: PT. Lkis Pelangi Aksara, 2007, hal. 28). Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Bahruddin: “boleh putus sekolah asal tidak putus belajar”.

Hijrah ke Perpustakaan

Masuk ke perpustakaan merupakan salah satu keharusan bagi orang yang ingin berpendidikan, bagi yang ingin bebas dari belenggu kebodohan dan keterpurukan. Di perpustakaan, kita bisa melahap berbagai sajian ilmu pengetahuan yang kita inginkan. Di perpustakaan, kita akan menemukan kedamaian belajar, tidak merasa terkekang, dan bebas mengekpresikan potensi yang kita miliki, selama masih dalam batas kewajaran. Di perpustakaan puka, tak ada istilahnya paternalistik, sentralistik dan tetek-bengek yang lainnya.

Perpustakaan merupakan khazanah keilmuan masa lalu dan sekarang. Potensi perpustakaan sangatlah besar dalam melahirkan insan-insan cendekia, dan para akademisi yang peka terhadap realitas kehidupan. Sungguh banyak para tokoh negri ini yang tak tuntas sekolah altaul bahkan tak pernah duduk di bangku sekolah, tapi mereka malah menjadi orang yang diorangkan oleh orang-orang, melebihi mereka yang pernah duduk di bangku sekolah.

Kita tahu dengan Pak D. Zawawi Imron, sastrawan dan budayawan Madura. Pak Zawawi adalah tamatan Sekoplah Dasar (SD). Setelah itu dia tidak pernah melanjutkan sekolah lagi. Pak Zawawi menghabiskan hari-harinya dengan banyak membaca buku, baik buku sastra , budaya, dan lain sebagainya. Dan sekarang, Pak Zawawi telah sangat kita kenal sebagai penyair nasional. Karena sebelumnya, Pak Zawawi kerap mendapatkan berbagai penghargaan, baik nasioinal maupun internasional, dalam bidang sastra (Periksa di “biografi tokoh” di id.Wikipedia.org). Hal yang semacam ini, belum tentu bisa didapatkan oleh para alumnus sekolah.

Demikian pula kita mengenal Ajib Rosidi. Dialah yang mengatakan bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan tidaklah diperoleh dari bangku sekolah, melainkan dari buku, dari perpustakaan. Dia masih termasuk orang yang pernah duduk di bangku sekolah, namun tak tuntas. Dia berani mengambil keputusan untuk berhenti sekolah. Hal itu dia lakukan karena melihat kebanyakan dari teman-temannya yang sekolah hanya untuk dapat ijazah, pekerjaan, plus makan. Bahkan Ajib Rosidi menegaskan bahwa “saya akan bisa hidup tanpa harus sekolah!”.

Hal ini terbukti ketika Ajib Rosidi dewasa. Ajib Rosidi tak pernah melamar pekerjaan, tapi pekerjaanlah yang melamar Ajib Rosidi. Bahkan orang yang berani putus sokolah ini, pernah menjadi guru besar di salah satu universitas ternama di negara Matahari, yaitu Jepang. Wow, fantastic!

Mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa Ajib Rosidi bisa demikian? Tidak lain jawabannya adalah karena ia rajin membaca buku, rajin masuk perpustakaan (Ajib Rosidi, dalam Bukuku Kakiku, Jakarta: Gramedia, 2004. hal. 01).

Masih ingatkah kita dengan sejarah Bill Gates, yang kita kenal sebagai “manusia komputer?” dia tidak pernah duduk di bangku sekolah. Tapi, dia menjadi orang kaya dan paling sukses dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang alumnus sekolah. Apa yang dilakukan Bill Gates? Kita penasaran? Hanya bermodal akal dia berpikir dan merenung, mengapa gesekan logam dapat memercikkan api?

Betul, Bill Gates bukanlah insan perpustakaan. Tapi bagaimana pun, ini adalah bukti yang lebih dari cukup bahwa untuk menjadi orang sukses dan berguna bagi dunia, tidak harus sekolah! Kita dapat belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Dengan buku? Juga bisa! Ingatlah pengakuan Rosihan Anwar: “buku berarti penting bagi pencerqaha diri. Dengan membaca buku, saya mendidik diri sendiri. Saya tidak menyandang gelar kesarjanaan. Dengan buku saya otodidak. Dengan buku saya otodidak sepanjang hayat” (Rosihan Anwar, dalam Bukuku Kakiku, Jakarta: Gramedia, 2004, hal. 322).

Tapi ngomong-ngomong, apakah sekolah anda punya perpustakaan? Kalau tidak, simaklah dengan baik pesan Prof. Dr. Darji Darmodiharjo. Mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, itu berpesan: “ Perpustakaan sekolah itu harus ada pada tiap-tiap lembaga pendidikan. Bila tidak ada ruang perpustakaan, pakailah salah satu ruang kelas. Jika ruang kelas tidak ada, pakailah ruang pojok dengan rak bukunya. Jika tidak ada ruang pojok? Tutup saja sekolahnya!”. Wallahu a’lam bisshawaab.

* Tulisan ini saya sampaikan dalam acara "Dialog Pendidikan: Antara Sekolah dan Perpustakaan". Di Lembaga Pendidikan Pesantren Ar-Rohmah Jaddung Pragaan Sumenep, Sabtu, 16 Februari 2008.

Thursday, March 27, 2008

Kitab Kuning yang menjenuhkan

Dalam sejarah Indonesia, Pesantren tercatat sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan tertua. Pesantren mulai muncul pertama kali sekitar abad ke-17. Pesantren muncul untuk menyebarkan siar keagamaan (dalam hal ini agama Islam) atau untuk menumbuhkan dan mengembangkan pemahaman keagamaan (Tafaqquh fi ad-Dien). Di samping itu, aspek moral juga menjadi prioritas utama dalam pembelajaran Pesantren ( L.W.C. Van Den Berg, “Het Mohammadaansche Godsdientonderwijs of Java and Madoera and De Daarbij Gebnikte Arabische Boeken” dalam TIJDSCHRIFT VOORINDISCHE TAAL, LAND-EN VOIKENKUNDE, 1886, hlm. 519-555).

Dalam upayanya ini, Pesantren banyak mengkonsumsi dan menyuguhkan pada peserta didiknya (baca: santri) akan pemikiran-pemikiran Islam klasik yang saat ini dikenal dengan “kitab kuning”. Hal ini terjadi mulai dari awal muncul dan berkembangnya hingga saat ini. Sehingga kemudian kitab kuning yang merupakan kumpulan dari pemikiran-pemikiran klasik (pemikiran ulama’ terdahulu) menjadi ‘ciri khas’ sebuah Pesantren. Tidak berlebihan kiranya jika di tengah-tengah masyarakat muncul image: santri identik dengan kitab kuning, santri tanpa kitab kuning bukanlah santri.

Namun di era global (global village) seperti saat ini, nampaknya image seperti di atas sudah mulai luntur. Eksistensi kitab kuning mulai terabaikan. Kitab kuning telah menjadi salah satu khazanah keilmuan yang termarginalkan. Para santri lebih bangga dan merasa bergengsi dengan buku-buku bacaan yang berhuruf latin (umum), yang menurut mereka lebih relevan dengan era yang terus berlari ini. Sehingga mereka beranggapan bahwa kitab kuning merupakan khazanah keilmuan ”kuno” yang “menjenuhkan”, karena yang dibicarakan hanya sebatas yang itu-itu saja, tidak seperti buku-buku hasil pemikiran pakar-pakar kekinian yang menurut mereka lebih variatif, dinamis dan progresif. Ini merupakan sebuah indikasi bahwa kitab kuning mengalami krisis minat baca yang pada gilirannya berujung pada krisis eksistensi.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan semacam inilah kiranya yang pas untuk hanya sekedar refleksi. Refleksi terhadap eksisitensi kitab kuning yang mulai krisis. Seperti halnya yang terjadi di Pondok Pesantren kita, Pondok Pesantren Annuqayah. Annuqayah dalam krisis!

Diskursus Pembelajaran Kitab Kuning

Pada umumnya, pembelajaran kitab kuning di Pesantren-Pesantren—termasuk juga Pesantren Annuqayah, mengunakan metode sorogan dan bandongan. Istilah bandongan adalah model pembelajaran yang dilakukan seperti kuliah terbuka yang diikuti oleh sekelompok santri sejumlah 100-500 orang atau lebih. Sang guru (baca: kiyai) membaca, menerjemahkan, dan menerangkan, sedangkan para santri mendengarkan dan memperhatikan kitabnya sambil menulis arti dan keterangan tentang pemikiran atau kata-kata yang sulit.

Sedangkan pada sistem sorogan, para santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab di hadapan sang guru atau kiyai. (Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Jakarta: Gema Insani Pers, hlm. 83). Akan tetapi, Annuqayah dan kebanyakan Pesantren pada umumnya kurang begitu memperhatikan akan metode pembelajaran kitab kuning yang kedua ini, dan lebih cenderung menggunakan metode pembelajaran yang pertama, yaitu metode bandongan, karena lebih cepat dan praktis untuk mengajar banyak santri. Tapi, cukupkah santri belajar hanya dengan menulis dan mendengarkan?

“Kitab kuning yang menjenuhkan”, bukanlah ungkapan yang tanpa alasan. Metode pembelajaran seperti yang tersebut di atas, dalam istilah Paulo Freire, seorang pakar pendidikan berkebangsaan Brazil, cenderung memakai metode banking of education, yang hanya akan membelenggu eksistensi manusia sebagai mahluk yang berfikir (Taufiq R. Bief, “Pesantren Dalam Tantangan Global”, dalam HIDAYAH, 2006). Pembelajaran yang hanya mengaharuskan santri untuk mendengar, memperhatikan dan menulis jelas tidak memberikan kesempatran berfikir dan mengekspresikan potensi yang dimiliki santri, apalagi melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan. Sehingga para santri berada dalam nuansa pembelajaran yang ambigu, statis, dan tidak partisipatif. Tidak heran bila kebanyakan santri berkesimpulan bahwa belajar dengan perantara kitab kuning itu “menjenuhkan”, ditambah lagi dengan “pembelajaran yang tak berkesudahan”.

Di Pesantren-Pesantren pada umumnya, pelajaran keagamaan yang di sampaikan melalui kitab kuning sering kali menjadi pelajaran yang tak berkesudahan. Pelajaran yang disampaikan hanya yang itu-itu saja, sebatas halal-haram, suci-najis, dan sebagainya. Ambil contoh di Annuqayah, pada tingkat MTs., satu kitab Fathu al-Qarib yang merupakan Syarh Ghayah al-Ikhtishar ditargetkan selesai dengan tiga tahun. Akan tetapi pada kenyataannya di kelas satu pada tahun 2004-2005, kitab Ahkam al-Thaharoh saja tidak selesai. Demikian juga di kelas 2 pada tahun berikutnya melompat pada kitab Ahkam al-Shalah yang juga hanya beberapa lembar. Demikian juga di kelas tiga. Kemudian di MA. menggunakan kitab Kifayah al-Akhyar yang cukup besar, kenyataannya hanya ‘mengulangi’ beberapa satuan pelajaran yang di MTs. yang hanya beberapa lembar saja dalam tiga tahun. Bukankah semua ini merupkan suatu hal yang menjenuhkan? sehingga tidak heran jika di kalangan masyarakat timbul pameo gurauan: pantas santri-santri alumnus Annuqayah isrof dalam penggunaan air, karena dari kelas ke kelas hanya diajarkan thaharoh saja. (K.H.A. Basith Abdullah Sajjad, Pondok Pesantren Annuqayah (Tinjauan Epistimologi dan Sumbangan Pemikiran untuk Pengembangan Keilmuan), Sumenep: PP. Annuqayah, 2007 hlm. 45-46).

Ada lagi, hal yang menyeret Pesantren pada jurang krisis eksistensi (berdasar pada kasus Annuqayah), yaitu dangkalnya khazanah keilmuan santri dalam membaca ‘teks’ kitab kuning. Hal ini dapat diketahui ketika santri merasa sungkan, risih, atau bahkan ‘trauma’ ketika dihadapkan pada teks kitab kuning. Suatu hal yang sangat ironis. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah Nahwu dan Sharaf telah dipelajari setiap waktu di Pesantren?

Pada umumnya, Pesantren-Pesantren—termasuk Annuqayah—menjadikan pelajaran ilmu Nahwu dan Sharraf sebagai prioritas utama. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman Mas’ud, bahwa pada dasarnya, para santri sangat perlu menguasai ilmu Nahwu, di mana dengan ilmu ini mereka akan mempu membaca dan memahami kitab kuning secara tepat. Adalah sangat memalukan jika seorang santri atau bahkan kiyai membaca kitab kuning tanpa memperhatikan qaidah tata bahasa. Sauatu kesalahan kecil dalam membaca kitab kuning merupakan muruah (rasa malu) bagi seseorang (Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi,Yogyakarta: LkiS, 2004, hlm. I58).

Namun demikian, Pesantren tidak dapat menjamin para santrinya pandai dalam membaca kitab kuning. Hal ini tergantung dari sejauh mana pemahaman mereka pada ilmu Nahwu dan Sharraf. Jika demikian, jelaslah bahwa problem yang sebenarnya terletak pada ilmu Nahwu itu sendiri, dan tentulah problem tersebut hanya berkutat di sekitar pembelajaran, dan itu tidak lepas dari profesionalitas guru dalam mengajar ilmu Nahwu, demikian juga ilmu Sharraf.

Di Annuqayah, sebagian besar profesionalitas guru (dalam hal ini guru Nahwu) masih dapat dibilang kurang memuaskan. Tidak sedikit guru yang kurang mengaitkan tata bahasa Arab dengan bahasa lain terutama bahasa Indonesia. Penggunaan metode pun pada umumnya hanya menggunakan metode deduksi, dan contoh-contoh yang monoton, yaitu hanya berkutat di kalilmat Qama Zaid dan Daroba Zaid Amr (K.H.A. Basith Abdullah Sajjad, Op. Cit.), ditambah lagi dengan hafalan dan tugas-tugas yang menumpuk. Lagi-lagi hal ini merupakan suatu hal yang menjenuhkan.

Sampai di sini, bagaimana Annuqayah ke depan? Akankah Annuqayah tetap menutup diri dalam metode pembelajaran tradisionalnya dari pembelajaran yang ditawarkan oleh era modern?

Penutup

Akhirnya, dari semua yang telah penulis paparkan di atas, hendaknya menjadi bahan renungan (refleksi) bagi semua pihak, karena tulisan ini adalah refleksi adanya. Refleksi terhadap fakta-fakta yang sering tidak kita sadari bahwa fakta yang ada tersebut bermakna. Tulisan ini juga tidak menjanjikan solusi, kecuali refleksi. Namun dari sekian banyak refleksi yang kita lakukan, barangkali kita kemudian bisa merangkai janji dan solusi. Untuk inilah tulisan ini dihadirkan sebagaimana adanya. Karena berisi refleksi, ia juga memuat kritik. Kritik tak akan mampu kita kemukakan ketika refleksi kita mandeg. Dan, semoga dalam kritik itu pun tersedia solusi. []

* Tulisan kontroversial ini saya presentasikan di Madrasah Aliyah Keagamaan Annuqayah (MAK) yang saya menyebutnya sebagai "kandang kitab kuning".