Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts

Friday, May 2, 2014

Menimbang Gairah Politik Kiai

Bisa dimaklumi mengapa di era reformasi ini partai-partai yang mengklaim diri sebagai partai Islam menjamur dan bersaing, tak lain adalah karena babak baru sejarah negeri ini, yaitu dengan dibukanya kran demokrasi segera setelah runtuhnya rezim Orde Baru, yang meniscayakan kebebasan berekspresi bagi setiap warga negaranya, termasuk dalam hal berpolitik. Setiap orang berhak berpolitik, mendirikan partai, ikut Pemilihan Umum (Pemilu), dan menjadi pemimpin negara.

Bagi partai-partai Islam, babakan sejarah baru ini mungkin merupakan sebuah angin segara yang baru berhembus, mengingat dalam sejarah, partai Islam tak pernah menunjukkan performa terbaiknya. Hal tersebut bukan akibat dari tak adanya kompetensi, melainkan system negara yang sudah terpolarisasi yang mengharuskan demikian.[1] Betapapun partai Islam berjuang, karena mereka tidak menguasai sistem, maka tetaplah tak ada kemajuan-kemajuan yang berarti dalam perjalanannya.

Menjamurnya partai-partai Islam, yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai bom waktu masa lalu, membawa implikasi-implikasi penting lainnya. Hal yang sangat menarik dan akan menjadi pembahasan dalam risalah sederhana ini, ada terlibatnya kalangat elit tradisional, dalam hal ini kyai ke dalam pusaran politik tanah air. Kyai yang selama ini identik dengan sosok yang alim ilmu agama, meiliki banyak santri, dan bertugas membumikan nilai-nilai luhur agama (Islam), terjun pula ke ranah politik praktis (real politic) yang berliku dan penuh jurang jebakan yang curam. Banyak spekulasi muncul menanggapi hal ini, antara mendukung kyai untuk masuk struktural, atau tetap konsisten di ranah kultural saja. Mengenai mana yang lebih tepat, tentu harus dilihat dari banyak segi, mulai dari motivasi, kompetensi, kemudian menghubungkannya dengan fakta dilapangan.

Islam, Kyai, dan Bargaining Position-nya

Diakui atau tidak, dalam konteks perpolitikan nasional saat ini, agama Islam, kyai dan kharismanya, memiliki posisi tawar yang sangat tinggi di mata masyarakat, terutama masyarakat tradisional pinggiran yang jumlahnya berjibun di Indonesia. Di antara alasannya, pertama, agama disadari bahkan diyakini sebagai media perbaikan kehidupan umat. Masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah kaum Muslim, meihat agama mereka sebagai harapan dan pandangan hidup; semua akan diukur dari sudut pandang agama; ketidaksesuaian dengan spirit agama akan diabaikan. Sebuah partai, yang mengklaim dirinya sebagai partai berlatar agama, dalam hal ini Islam, bisa ditebak akan meraup simpati yang luar biasa dari masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Kedua, kyai dan kharismanya yang seakan diagungkan di tengah masyarakat, juga sangat penting bagi penggalangan massa. Kyai dengan pesantrennya, tentu memiliki banyak simpatisan yang loyal. Sebab dalam tradisi pesantren, seorang murid atau santri, haruslah sami’na wa atha’na pada kyainya. Sekali sang kyai memerintahkan untuk melakukan sesuatu, maka siapapun akan segera melakukannya tampa banyak tanya. Kepatuhan atau ketundukan, begitu tertanam kuat dalam tradisi pesantren. Bukan perkara mustahil bagi seorang kyai, yang dinilai alim ilmu agama, bagus perilakunya, bersih ucapan-ucapannya, untuk sekadar memfatwakan para santrinya untuk menyatukan suara untuk satu partai.

Kedua alasan ini, telah benar-benar dibaca dengan sangat baik oleh para politikus masa kini, tidak hanya yang berhaluan Islam saja, tetapi juga yang berhaluan nasional tak mau kalah untuk menggandeng para kyai dengan fatwa-fatwanya yang bertuah di tengah-tengah masyarakat. Tidak sedikit para kyai yang ‘tergiur’ ke arena politik praktis, meski tak sedikit pula yang tetap konses di ranah kekyaiannya tanpa bersibuk diri di are politik praktis. Biasanya, para kyai digandeng dengan cara diberi posisi dalam kepengurusan partai. Di sini, tentu bukan lagi berbicara kompetensi, melainkan bagaimana nantinya kyai bisa menjadi vote getter, menggalam massa sebanyak-banyaknya, melayangkan fatwa yang menguntungkan partai, dan membuat justifikasi-justifikasi untuk menaikkan elektabilitas partai.

“Sapi Perah”

Terlepas dari posisi tawar kyai yang mentereng, ada sebuah fakta miris yang hampir selalu terjadi di setiap momen politik yang tak bisa diinkari dan telah menjadi rahasia umum, bahwa kyai tidak memiliki peran dominan dalam arah kebijakan partai. Kyai yang pada dasarnya adalah sosok-sosok legowo dan rendah hati sesuai dengan perintah agama, kalah pamor dibanding politikus-politikus yang sebenarnya. Arah kebijakan partai tak kuasa dikendalikan otoritas kekyaian, sebab ia adalah ranah politis yang setiap sesuatu memiliki kemungkinan untuk terjadi, terlepas dari baik-buruknya. Kyai, paling banter hanya memimpin doa setelah rapat pengambilan kebijakan selesai. Mungkin penulis terlalu berlebihan dalam hal ini, tapi begitulah kira-kira untuk menunjukkan betapa kyai tak memiliki taring yang cukup bertuah dalam internal partai.

Menurut hemat penulis, ada sedikitnya dua alasan untuk menjelaskan situasi ini. Pertama, kyai tidak cakap. Terjunnya kyai ke ranah politik praktis biasanya bukan atas dasar keinginan sendiri yang dating dari hati nurani dan bukan pula atas pertimbangan kompetensi yang mumpuni. Terjunnya kyai ke area politik praktis lebih banyak didorong oleh gairah sesaat karena ajakan dari beberapa politikus yang berhasil memikatnya dengan janji-janji politik yang gila.

Kyai pada dasarnya tidak memiliki bekal pendidikan politik yang cukup. Sebab, sedari kecil, kyai yang biasanya menjadi pengganti kyai sebelumya (bisa ayahnya), tumbuh dewasa di pesantren yang sangat tertutup dengan dunia luar, belajar kitab kuning, dan bergumul dengan justifikasi halal-haram dan suci-najis. Bahkan tak jarang-pesantren-pesntren yang semacam ini, memandang haram terhadap rutinitas politik praktis; haram diketahui dan dipraktikkan. Tentu merupakan pengalaman yang sangat baru bagi kyai jika suatu waktu ada ajakan menggiurkan untuk memasuki area panas politik praktis, tanpa berpikir panjang mengenai apa yang bisa mereka lakukan dan kecakapan apa yang mereka punya. Alhasil, para kyai lebih sering menjadi penonton atau pendukung saja ketimbang pemain inti. Meski pun mereka sebenarnya memiliki bakat, tapi proses belajar tentulah tak bisa secepat itu.

Mengingat terjunnya kyai ke arena politik praktis lebih banyak bukan atas pertimbangan kompetensi atau kecakapan, maka penjelasan kedua, kyai hanya lebih banyak dimanfaatkan. Cukup mudah untuk menjelaskan ini. Apa yang bisa diharapkan dari orang yang tidak cakap? Mengapa orang cakap direkrut menjadi pengurus partai? Bukannya orang-orang partai atau politikus itu tidak bodoh sehingga tidak perlu merekrut orang-orang yang tidak bisa diandalkan seperti kyai? Jawabannya hanya satu, yang tak lain adalah kyai memiliki massa, kharisma dan fatwa. Kyai dengan pesantrennya, sebagaimana telah sempat disinggung di depan, adalah sosok potensial untuk menggalang massa. Fatwa-fatwanya akan didengar, serta justifikasi-justifikasinya akan dipatuhi tanpa banyak bertanya. Inilah sebenarnya alasan para politikus mengajak kyai ke arena politik praktis sebagai pengurus dari partai yang digawanginya.

Selain itu, banyak apologi-apologi baik yang dibuat kyai sendiri atau yang datang dari luar untuk memantapkan keputusannya menaiki panggung politik praktis. Apologi tersebut tak kurang dari keyakinan kyai akan perlunya memperbaiki sistem dari dalam, tak cukup hanya dari luar; kyai adalah teladan yang diharapkan akan mampu mengayomi masyarakat, sesuai tuntunan agama serta membaca perdamain bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Betulkah demikian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kiranya dimunculkan pula konsekuensi-konsekuensi yang perlu dicermati ketika sosok kyai yang disakralkan bermetamorfosis menjadi politisi.

Runtuhnya Kharisma Politik Kiai

Ada sedikitnya dua hal yang perlu dicermati ketika gerbong ulama bermetamorfosis menjadi prolitisi. Pertama, jangan keulamaan bangsa ini akan mengalami deficit deposito moral.[2] Maksud dari hal ini adalah kita akan kehilangan orang-orang yang independent yang memosisikand dirinya di tengah-tengah orang yang bertikai di negeri ini. Kita akan kehilangan orang-orang yang mampu secara adil dan terlepas dari kepentingan-kepentingan apapun yang akan mendamaikan bangsa ini yang multicultural. Kita akan kehilangan orang-orang yang berbicara dari hati nurati tanpa tendensi apapun, yang murni untuk memperbaiki kemaslahatan umat. Meski secara mendasar politik adalah suatu uapaya untuk membangun masyarakat yang adil dan beradab, tapi dalam knteks negeri ini yang masih belajar demokrasi, masih jauh panggang dari api. Alih-alih untuk memperbaiki umat lewat struktur dan system, poitik hanya manjadi jalan seseorang atau kelompok untuk melancarkan kepentingan-kepentingan yang sepihak.

Tak bisa dipungkiri pula saat ini, hal-hal negatif banyak pula dilakukan oleh kaum terdidik, orang yang pandai agama, pembuat kebijakan dan bahkan para ulama sendiri yang dipandang sakaral itu. Betapa problem di negara ini sangat kompleks. Ketika seseorang masuk ke dunia politik, maka ia telah tidak independen lagi, ia tidak lagi benar-benar bebas dari kepentingan-kepentingannya. Keadilan akan terasa jauh panggang dari api dalam segala tindak-tanduknya.

Ada sebuah ungkapan yang terdengat akrab sekali dalam literatur ilmu politik, bahwa power tends to corrupt, kekuasaan cenderung untuk korup. Politik, dalam hal ini politik praktis, sebagaimana ia adalah media untukmemperoleh dan mempertahankan kekuasaan, maka siapapun yang mulai menyentuhnya, tantangan terberatnya adalah membebaskan diri dari tindakan korup, yang mana hal itu sangat sulit sekali. Hanya ada beberapa orang sakti saja yang bisa membebaskan diri dari segala hal yang berbau korupsi dalam konteks negera kita Indonesia ini. Maka tidak heran, jika masih ada pandangan awam yang dengan tegas dan sinisnya bersikukuh menyatakan bahwa “politik itu kotor”, dan siapa yang memainkannya maka ia tak bersih lagi. Mungkin ini memang berlebihan dan terkesan telah menarik generalisasi yang terlalu tinggi, tapi begitulah pengalaman traumatik masyarakat yang selalu ditunjukk oleh rutinitas-rutinitas kita yang tidak sehat.

Kedua, profesi politisi ternyata jauh lebih ‘menggiurkan’. Para kyai merasa (penulis sebenarnya lebih suka menyebutnya ‘berapologi’), dengan berpolitik meraka akan lebih mudah mewujudkan idealitas dan moralitas. Namun pada kenyataannya, ketika kyai bermetamorfosis menjadi politisi, segera saja mereka kehilangan kebajikan sivilitasnya (the virtue of civility), kehilangan kharisma dan otoritas moral dan larut dalam keruntuhan rasa kemanusiannya yang menghanyutkan.

Kenyataan tersebut bisa di mengerti, mengingat kata Edward Shills (1972), bahwa praktik politik kita bukanlah lahan subur untuk idealitas dan perjuangan moral. Sebab, walau kyai-intelektual di negera pascakolonial telah memiliki ide kebangsaan dalam negerinya sendiri, tapi mereka tidak berhasil menciptakan sebuah bangsa, malah mereka menjadi korban idenya sendiri, yaitu ketika nasionalisme tidak mengarah pada perwujudan kewarganegaraan (citizenship).[3] Ketika para rohaniawan rakus, dan para kyai atau ulama berbondong-bondong menjadi politisi busuk maka disinilah lahir apa yang disebut the end of morality, sehingga perlu disemai kembali ulama-ulama baru yang bersih dan berkomitmen.

Pada perkembangan selanjutnya, mengingat banyaknya kyai yang terjun ke dunia politik praktis, dan tidak sedikit di antara mereka yang juga cenderung korup dan tidak sesuai janji awalnya yang amat manis, masyarakat pun secara pelan-pelan mulai kurang percara pada orang yang selama ini mereka sangat percayai bahkan pada satu titik mereka sakralkan. Terbuktilah bahwa politik itu kotor, dan kekuasaan itu memang cenderung untuk korup. Sebuah pandangan yang sangat miris saat ini mengemuka di tengah masyarakat bahwa “mereka yang tidak korupsi, hanya belum mendapat kesempatan saja”.

Tentu miris hati ini ketika harus mendengar ungkapan pesimistis yang sedemikian dalamnya tersebut. Tampak bahwa di negera yang luas ini, tak ada sosok-sosok yang bisa diharapkan lagi untuk menjadi pemimpin yang pro-rakyat dan berjuangan atas idealitas dan moralitas. Meski jumlah perwakilan partai Islam di parleman tidak bisa dibilang sedikit, tapi sampai sekarang, mereka yang katanya taat beragama itu, dan katanya berjuang di jalan yang lurus sesuai tuntunan agama yang hanif, mereka belum bisa melakukan terobosan-terobosan berarti, yang ada malah beramai-ramai mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk korupsi miliaran rupiah. Kita bisa menunjuk banyak figure dari partai berlatar agama dalam hal ini, atau kyai. Kegagalan kyai untuk memperbaiki citra politik yang suram dewasa ini telah menyisakan pengalaman yang traumatik dalam benak masyarakat. Fatwa-fatwa para kyai politik tak lagi bertuah.

Kesimpulan

Adalah merupakan satu hal yang sangatlah mulia, ketika ada seseorang yang tergerak hatinya untuk meujudkan idealitas dan memperjuangkan moralitas masyarakat. Tak peduli itu akan diwujudkan lewat jalan structural atau politik praktis, maupun jalan kultural, sebuah gerakan di luar politik praktis. Kita harus memandang optimis kepada setiap orang yang bertekad membawa masyarakat negeri ini menuju taraf kehidupan yang lebih baik, termasuk ketika harus lewat politik praktis, karena pada hakikatnya, politik adalah untuk membangun manusia menjadi adil dan beradab.

Dalam politik praktis, semua dari kita maklum, segala sesuatu memiliki kemungkinan yang sama untuk berwujud, bisa berubah ubah cepat maupun lambat. Hal tersebut tentu tak bisa dilepaskan dari prinsip politik yang berupaya memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Intrik politik, yang terkadang tak sehat, tidak menutup kemungkinan untuk terjadi. Kita semua tahu akan hal itu. Sesuatu menjadi heboh dan mengguncang naluri, ketika di abad XXI banyak kalangan kyai, yang sehari-harinya dikenal sebagai pengasuh para santri, alim ilmu agama, baik budi pekertinya, dan terbebas dari kepentingan-kepentingan duniawi. Tentulah bukan otoritas kita untuk menyalahkan para kyai yang bergairah masuk ke dunia politik praktis, sebab itu adalah hak semua warga negara dan merupakan bagian penting dari proses belajar demokrasi kita yang perlu dijunjung tinggi. Tapi bagaimanapun kita tetap perlu mempertanyakan ketahanan kyai yang lemah lembut dan jujur dalam arus politik praktis negeri ini yang kacau-balau.

Berdasarkan pembahasan di atas, bisa disimpulkan bahwa kyai, meskipun boleh, tapi tak seharusnya berpolitik praktis. Politik praktis adalah lahan para politisi saja. Sementara kyai, yang sebenarnya juga sangat bisa jadi politisi, lebih baik jika tetep menjadi sosok yang independen dan menjaga nilai dan norma-norma, serta bebas dari tendensi apapun. Sebab ketika kyai berpolitik praktis, kemudian kehilangan kebajikan civilitasnya, maka kepada siapa lagi masyarakat akan mengadukan segala kegundahan batin yang sebenarnya jauh lebih penting. Ungkapan memperbaiki dari dalam (sistem), hanyalah merupakan sebuah apologi saja, dan pada praktiknya, kyai sulit sekali—untuk tidak mengatakan tidak bisa—menjaga diri dari kecenderungan kekuasaan yang korup.

Bagaimanapun, ini adalah sebuah karya tulis yang tidak kebal kritik atau debatable. Kekurangan dan kelebihan bisa saja terjadi dalam banyak sisinya. Kita tetap berharap semoga masih ada tangan-tangan yang ‘tebersit’ hatinya untuk berkomitmen menyehatkan dan membersihkan citra politik tanah air yang sekarang sedang sengkarut, baik yang berhaluan agama maupun yang nasionalis. Tentu itu diperlukan kerja-kerja cerdas dan kreatif serta tanpa tendensi apapun. Karena hanya dengan demikian, kita bisa memperbaiki sistem yang tidak kondusif. Hal ini mungkin lama, tapi gabaimanapun, harus ada seseorang yang mengambil langkah pertama.

End Notes:

[1] Lebih jauh lihat Zainuddin Maliki, Politikus Busuk; Fenomena Insensibilitas Moral Elite Politik (Yogyakarta: Galang press, 2004), hlm. 184-186.
[2] Sigmund Freud, dalam Komaruddin Hidayat dan M. Yudhie Haryono, Manuver Politik Ulama: Tafsir Kepemimpinan Islam dan Dialektika Ulama-Negara (Yogyakarta: Jalasurta, 2004), hlm. 11.
[3] Lewat Komaruddin Hidayat, hlm. 13.

Friday, May 17, 2013

When Reading Gives Us Nothing

One of my friends asked me about reading and everything dealing with it. I was glad to hear that. Finally, he told me about his problems in reading. One of them, which made me interested in, is about difficulty in understanding a text, either in book, newspaper, or others. He then concluded that if he read something, he seemingly get nothing. He has been actually excited for reading, but, because of that problem, he would go on frustration.

“I want to be smart and know everything. So what must I do?” This friend asked me on a pleasant day. I said “read more”. He responded me, “Just it? Well, actually I always try to read book as many as possible, but it gave me nothing. So what is wrong?” I said for the last time “read more and more. Just read. Do not think about what you have got from the book. Neglect that. Read and read. Later, when the time comes, you will find the result, obviously!”. “Do I have to read many times for a book?” and “how to read well?” huft….

I have experience in reading for many years. As far as I remember, I tried to read frequently since I was in the first grade of Junior High School (named Madrasah Tsanawiyah) Annuqayah, Guluk-Guluk. It is long time, right? But until now, I do not know how to read well, indeed! Besides that, I have never thought about what I got from my reading activity, so that at the same time I have never felt difficulty in reading. I just read and strive to be happy in reading. It was no burden to understand.

Before we talk too far about reading, it is better if we firstly understand about what “reading well” means. According to my opinion, “reading well” means, basically, someone understands what he read, which in turn, he can tell and explain it well to someone else. Of course, here, I refer to reading textbox or other papers, not reading nature or social dynamics. When you feel nothing after reading a book, do not be hopeless. There are some regards you have to know in case of reading. This is, at least, based on my experience so far.

Firstly, be sure that no work without result in this work. Everything you did will absolutely give you result, little or many, now or later. It takes our patience to wait for. Be sure when you eat, you will be full; when you work, you will get money; when you play water, you will be wet; when you run, you will be tired; and when you read, you will get something from what you read. Well, the result of reading may be different from other results. It cannot be found or got straightly and shaped in front of us, because it is visible. Although you get something from it, of course you cannot show it to other. Once more, it is visible. So, wait for it, and do not be hurry-up to conclude. The result often comes suddenly when we do not think it.

Secondly, do not think about what you have got. It is usual, when we always think about our work’s result. It is also important, because the result we want often make us excited to do something. Hidden result can make us down and make our word sporadic and walk late. It obtains in every case of work except reading. In reading, you should not think about the result, because that condition will impose you. You just read as much as you can, and strive to understand as far as you can, and do not force yourself to understand everything you read in the book, because, I assert, it is impossible. How can it be impossible? Let me explain the third one.

Thirdly, remember that what we read goes to be precipitated. This is the reason why after reading a book, we frequently forget what we have red. We may understand every word we see, but in the last time, after all, we feel lost of the word and its message. It is something normal. It is not lost actually, but precipitated. What will the something precipitated be? Of course, it will not be like that for all time. As it is something precipitated, it will emerge and appear when there something else stimulates it, for example, reading other books, discussing with friend, or noticing something or phenomena around us. All of these will emerge our knowledge and explore our experience. In this condition, everything precipitated (include what we have red) on ourselves will come out, appear and speak. So we should realize that everything we have red have not been lost even emerged waiting for its suitable time.

So, we have to read and read. Do not think about what we got more that what we do. Just do it. Because, no work, although it is so little, in this world without result. Good luck to my diligent friend and crazy readers. When we give as much as possible, no matter, we actually get as much as we give at the same time. Well, it may not be emerged suddenly, but be sure, it will come, now or later.

Jum’at, Wonocolo, 17 Mei 2013

Friday, December 21, 2012

Menyelamatkan Bahasa Indonesia

Ada apa dengan bahasa Indonesia kita? Apakah ia sedang dalam masalah berat, sehingga kita harus menyelamatkannya? Ini adalah beberapa pertayaan untuk mengawali tulisan yang merupakan sebuah refleksi ini.

Disadari atau tidak, keberadaan bahasa Indonesia kita semakin hari semakin menghawatirkan. Ia tak ubahnya orang tua, yang dihantam di sana-sini oleh orang-orang muda tak diundang. Ia seharusnya awet muda, tapi apa mau dikata, tak ada yang peduli dengannya. Angin hedonisme dan konsumerisme pun berhembus kencang menerpanya, sehingga ia harus segera mencari pegangan yang kuat sebelum terlambat.

***

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar nasional di lingkungan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, tepatnya di Gedung Self Access Centre (SAC) lantai 3. Seminar seputar perpolitikan nasional itu mengundang beberapa narasumber yang semuanya terdiri dari dosen IAIN Sunan Ampel, semuanya adalah akademisi.

Seminar berjalan dengan lancar. Namun tiba-tiba saya merasa gelisah, ada beberapa kata-kata yang dilontarkan narasumber yang terdengar kurang pas. Ini bukan masalah SARA, tapi semata-mata masalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Ya, saya berpikir bahwa narasumber itu kurang bisa (mungkin karena kurang biasa) menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Mengapa saya berpikir demikian, akan saya tunjukkan.

Tuesday, November 13, 2012

Haji dan Kepedulian Sosial

Berhaji sejatinya memenuhi panggilan Tuhan, ajang menyucikan diri dari segala “kotoran” duniawi, membuang ego, dan bertaubat dengan merenungi jati diri sebagai hamba Allah yang lemah. Berhaji merupakan upaya manusia untuk menjadi hamba Allah yang baik, arif, egaliter, yang memberikan manfaat pada manusia dan lingkungan sekitarnya.

Diberitakan, bahwa setiap tahun para calon jamaah haji Indonesia selalu membludak. Bertambah tahun, antrean calon jamaah haji kian memanjang. Bahkan, tidak sedikit orang-orang Indonesia yang melaksanakan ibadah haji sampai dua kali. Pemerintah hampir selalu dibikin kalangkabut oleh proses pemberangkan calon jamaah haji Indonesia yang berjumlah besar. Barangkali, ini adalah kabar baik, yang mengisyaratkan tingginya ghirah orang-orang Indonesia naik haji, dan bahwa akan semakin banyak orang-orang Indonesia yang arif dan menjadi pioner bagi penegakan nilai-nilai kemanusiaan.

Secara bersamaan, kita seringkali dibuat bingung ketika menaburkan pandangan pada masalah-masalah kebangsaan yang sampai detik ini tak kunjung menemui ujung, malah semakin runyam saja. Tampak sangat kontras, bahwa di balik antusiasme orang-orang melakukan ibadah haji, ada masalah-masalah destruktif yang mengancam jiwa-jiwa kemanusiaan. Salah satu contoh konkretnya, korupsi. Korupsi telah melemahkan eksistensi bangsa ini di semua lini. Korupsi telah menjadi akar dari masalah kemiskinan, kelaparan, kekerasan dan keterpurukan bangsa lainnya. Pendek kata, antusiasme berhaji bangsa ini, yang seharusnya melahirkan insan-insan arif, belum berbanding lurus dengan kesejahteraan bangsa yang terkoyak.

Friday, November 2, 2012

Kurban dan Emansipasi Kemanusiaan


Tanggal 10 Dzulhijjah adalah perayaan Hari Raya Idul Adha bagi suluruh umat muslim. Hari raya ini dekenal pula sebagai Hari Raya Kurban. Sebab pada momen tersebut, umat muslim yang mampu dianjurkan untuk berkurban. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat kepada Tuhan-mu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar/108: 1-2). Demikianlah salah satu ayat yang mengandung anjuran berkurban.

Berkurban yang dimaksud adalah menyembelih binatang kurban sebagai ibadah dan mensyukuri nikmat Allah. Berkurban merupakan usaha manusia untuk taqarrub atau mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (istilah kurban berasal dari bahasa Arab qaraba, yang artinya dekat. Sementara padanan kata Indonesianya yaitu korban atu pengorbanan). Ibadah kurban bermula dari ketulusan nabi Ibrahim as dahulu dalam menjalankan perintah Allah untuk menyembelih (mengorbankan) putera tercintanya, nabi Ismail as. Meski pada akhirnya Allah mengganti (posisi) nabi Ismail dengan seekor binatang (Ismail tak jadi disembelih) , tapi peristiwa ini telah memperlihatkan kepada kita akan totalitas keimanan seorang hamba kepada Tuhannya. Maka dalam ibadah kurban ada harapan terbentuknya seorang hamba yang benar-benar loyal kepada Tuhannya, sebagaimana nabi Ibrahim.

Adapun pelaksanaan ritual ibadah kurban ini yaitu setelah pelaksanaan salat Idul Adha sampai berkhirnya 3 hari tasyrik. Binatang kurban yang dimaksud yakni binatang ternak seperti unta, sapi, dan kambing. Selanjutnya daging binatang itu dibagikan kepada kaum fakir-miskin. Perintah ibadah kurban ini tidak lain adalah demi kemaslahatan dan kedamaian duniawi sampai ukhrawi.

Thursday, August 16, 2012

Buku dan Karir Politik

Tampaknya, buku dan karir politik merupakan dua kubu yang sulit untuk didamaikan. Keduanya berposisi selalu berhadap-hadapan dan saling menjatuhkan satu sama lain. Orang yang awalnya suka membaca dan produktif menulis buku, biasanya menjadi mandul ketika ia mulai mengejar karir politik. Kenyataan ini mengacu pada aktivitas kebanyakan—untuk tidak mengatakan semua—politikus kita yang tampak jauh dengan buku.

Tidak sulit bagi kita untuk menunjuk para politikus di negeri ini yang “meninggalkan” buku. Buku bagi mereka telah menjadi sesuatu yang usang dan menghabiskan waktu belaka, politikus lebih sibuk dengan kegiatannya yang rumit di lapangan, bermain intrik dan segala tipu daya yang muaranya adalah menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Dan, kalau perlu korupsi!

Tentu tidak bisa dibenarkan ketika membaca buku dipandang hanya menghabiskan atau menyita waktu. Sebab kegiatan membaca buku tak terbatas oleh ruang dan waktu, bisa kapan saja di mana saja tergantung bagaimana pribadi masing-masing memanage waktunya. Membaca buku bisa dilakukan di waktu senggang. Sebagaimana setiap orang pasti memiliki waktu senggang, sependek apapun itu, maka tak ada alasan bagi politikus yang paling sibuk sekalipun untuk mengatakan tak punya waktu untuk membaca buku.

Friday, May 4, 2012

The Honesty Misunderstood

This does not mean to break the meaning of honesty and change it with the different one. Indeed, the honesty has esteemed meaning we can not only change, but also have to make as reference. This only wants to straighten out our wrong estimates about meaning of honesty.

The honesty issues  always appear around realization of national exlamation (Indonesian: Ujian Nasional, UN) every year. However government affords to build honesty, it is never built. Every year, it has not been ‘UN with zero deceit’. This shows how bad the morality of our people is.

It is no success reached with deceit. The honesty is the first step to be successful. So, we have to look for ways about how to build honesty effectively. The failures of government effort so far motivate us to think it more and more. We have to get great ways. One of them, according to me, is understanding about the honesty itself. I see that many people have been missunderstanding the honesty’s work.

Monday, April 30, 2012

Potret Buram Perempuan Pinggiran

Diakui atau tidak, perjuangan kesetaraan gender selama ini lebih terasa hasilnya di kota-kota besar, tetapi hampir tidak menyentuh kehidupan perempuan-perempuan di daerah pinggiran. Perempuan kota telah berjibaku dengan masalah publik, sementara perempuan pinggiran masih belum jauh dari dapur, sumur dan kasur. Kenyataan ini menyiratkan adanya ketimpangan dalam perjuangan kesetaraan gender.

Hampir tidak ada perempuan pinggiran yang menjadi pioner bagi perjuangan membela kesejahteraan rakyat. Para wakil rakyat perempuan yang berpartisipasi di parlemen, hampir semuanya dari kalangan perempuan elit yang berasal dari kota metropolitan. Perempuan pinggiran tampak selalu udik, miskin prestasi dan merekalah sebenarnya yang paling banyak mengalami kekerasan, baik dalam keluarga maupun dalam lingkungan masyaraktnya.

Wednesday, April 11, 2012

Membenahi Demonstrasi Kita

Untuk sementara, gelombang demonstrasi antikenaikan harga BBM reda, tapi tidak menutup kemungkinan akan ramai lagi, mengingat penaikan harga BBM masih berstatus tunda. Demonstrasi atau aksi protes pada keputusan penguasa seperti ini tentutlah merupakan sesuatu yang sah, sebab ia adalah bagian dari proses demokrasi kita. Mahasiswa adalah pihak yang paling getol melakukan demonstrasi, sebagai salah satu ekspresi dari peran vitalnya sebagai agent of change.

Demonstrasi ini menyisakan banyak cerita, mulai penundaan kenaikan harga BBM sampai enam bulan ke depan, hingga aksi anarkistis yang mengakibatkan penahanan beberapa mahasiswa di beberapa daerah. Anarkisme yang selalu mewarnai demonstrasi, rupanya telah melahirkan stigma buruk demonstrasi di mata sebagian masyarakat. Demonstrasi kemudian menjadi aksi yang harus dihindari.

Sunday, April 1, 2012

Universalisme Olahraga

BEBERAPA tahun terakhir, keberadaan olahraga kita masuk dalam fase-fase yang kurang menggembirakan. Daya gedor olahraga negeri ini sangat lemah, kehilangan taringnya, berbeda dengan kisaran tahun 80 sampai 90-an di mana olahraga kita menjadi aset negeri yang bisa dibanggakan.

Ada banyak hal yang menyebabkan keterpurukan olahraga kita, di antaranya, pertama, keadaan ekonomi yang tidak stabil. Keadaan ini terutama terjadi setelah terpaan krisis moneter  menyelimuti negeri ini pada tahun 1999. Akibat krisis itu, harga barang-barang melonjak naik, banyak orang yang kehilangan pekerjaan,  dan angka pengangguran terus membengkak. Krisis ini telah mengubah wajah negeri hampir dalam segala lini, termasuk olahraga. Bisa dilihat setelah itu, betapa dinamika olahraga kita mulai tersendat-sendat.

Monday, May 9, 2011

Ayo Menulis, Kawan!

Menulis adalah sebuah usaha mengabadi. Descartes, seorang pemikir ulung, jauh di zamannya dahulu pernah melontarkan kredo “Cagito ergo sum”, yang artinya aku berpikir maka aku ada. Di abad ini, kita mengenal kredo sebanding, “Aku menulis maka aku ada”, Gus Zainal punya. Kredo yang terakhir menjelaskan kredo yang sebelumnya. Artinya bahwa, sebuah pikiran yang ditulis, akan mengabadi. Bersama itu pula, sang pemilik buah pikiran yang tertulis itu, akan terus “ada”, terus dikenal dan dikenang (mengabadi).

Menulis adalah pula sebuah usaha mengabdi. Dalam hal ini mengabdi pada bangsa, negara, dan dunia. Menulis merupakan upaya mentransformasikan ide-ide kepada orang banyak, untuk pemecahan problematika yang ada, dan demi terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik dan dinamis. Selain itu, menulis juga sebagai usaha memperkaya ilmu pengetahuan, sehingga peradaban akan terus berkibar maju, dari satu generasi ke generasi seterusnya. Jelas, menulis adalah usaha pengabdian yang mulia. Maka barang siapa yang menulis, mengabdi, akan mengabadi, dan jangan khawatir akan hilang dari peredaran sejarah!

Pesantren, Terorisme, dan Islamophobia

Setelah Bali pada 2002 (bom Bali I) dan 2005 (bom Bali II), sekarang giliran Ibu Kota Jakarta meledak, tepat di jantung kota. Bom menimpa hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, pada tanggal 17 Juli 2009 lalu yang sampai menggagalkan pertandingan sepak bola antara Manchester United dan Indonesia All-Stars. Tragedi menakutkan ini membuat bangsa ini panik, dan tampak akan membuka memori lama negeri tercinta ini tentang aksi terorisme.

Terorisme adalah tindakan yang tak terpuji dan dapat merugikan orang banyak, serta dapat mengganggu stabilitas negera. Terorisme adalah perusak kedamai-sejahteraan umat. Aksi terorisme tampak lekat dengan negara tercinta ini, Indonesia. Pemerintah terutama, menjadi sibuk melakukan penyelidikan-penyelidikan. Apakah Indonesia negara teroris? Tentu bukan, sebab negara ini adalah negaranya kaum beragama. Pertanyaannya, mengapa aksi terorisme marak di negeri kaum beragama semisal Indonesia?

Sunday, May 4, 2008

Pelajaran berharga bagi bangsa indonesia

Pro dan kontra atas penuntutan keadilan kasus hukum Pak Harto tak kunjung reda. Pihak pro tetap bertahan pada prinsipnya untuk terus menuntut kasus hukum Pak Harto. Begitu pula pihak kontra, tetap bersikukuh dan mendesak pemerintah agar membebaskan dan memaafkan Pak Harto.

Pak Harto sekarang sudah tiada. Beliau pergi meninggalkan kita semua, meninggalkan bangsa dan negara yang pernah dipimpinnya. Maka, akankah hukum itu ditiadakan pula? Haruskah kita membiarkan hukum tersebut pergi bersama Pak Harto?

Jika Pak Harto terbukti bersalah, hal itu jangan sampai terjadi. Pak Harto boleh meninggal. Tapi, bagaimanapun dan sampai kapan pun, hukum harus tetap berjalan. Jangan biarkan hukum terkubur seiring dengan kepergian Pak Harto. Ingat, negara kita adalah negara hukum!

Selain itu, yang paling penting, hal ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh bangsa Indonesia. Bahwa, kalau terbukti bersalah, bagaimanapun, sampai kapan pun, dan siapa pun orangnya akan tetap diadili. Dengan demikian, berbagai bentuk pelanggaran dan penyelewengan tidak terus-menerus mendera negeri tercinta ini.

* Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos rubrik "Gagasan" edisi Selasa, 02 Januari 2008.