Showing posts with label budaya baca. Show all posts
Showing posts with label budaya baca. Show all posts

Friday, December 21, 2012

Menyelamatkan Bahasa Indonesia

Ada apa dengan bahasa Indonesia kita? Apakah ia sedang dalam masalah berat, sehingga kita harus menyelamatkannya? Ini adalah beberapa pertayaan untuk mengawali tulisan yang merupakan sebuah refleksi ini.

Disadari atau tidak, keberadaan bahasa Indonesia kita semakin hari semakin menghawatirkan. Ia tak ubahnya orang tua, yang dihantam di sana-sini oleh orang-orang muda tak diundang. Ia seharusnya awet muda, tapi apa mau dikata, tak ada yang peduli dengannya. Angin hedonisme dan konsumerisme pun berhembus kencang menerpanya, sehingga ia harus segera mencari pegangan yang kuat sebelum terlambat.

***

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah seminar nasional di lingkungan kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, tepatnya di Gedung Self Access Centre (SAC) lantai 3. Seminar seputar perpolitikan nasional itu mengundang beberapa narasumber yang semuanya terdiri dari dosen IAIN Sunan Ampel, semuanya adalah akademisi.

Seminar berjalan dengan lancar. Namun tiba-tiba saya merasa gelisah, ada beberapa kata-kata yang dilontarkan narasumber yang terdengar kurang pas. Ini bukan masalah SARA, tapi semata-mata masalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik. Ya, saya berpikir bahwa narasumber itu kurang bisa (mungkin karena kurang biasa) menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Mengapa saya berpikir demikian, akan saya tunjukkan.

Saturday, August 25, 2012

Budaya Korupsi vs Budaya Baca

Betapa negeri ini malang, ketika tindakan korupsi telah menjelma kebudayaan yang subur. Korupsi bukan hanya masalah mencuri uang negara, tapi lebih dari itu merampas hak-hak orang banyak. Tidaklah berlebihan jika korupsi dipandang sebagai pelanggaran HAM yang mesti dibasmi.

Pemosisian korupsi sebagai kebudayaan bukan tanpa alasan. Banyak hasil survey membuktikan, korupsi telah meraja lela di negeri ini, mulai di tingkat pemerintah pusat, daerah, sampai ke tingkat kelurahan; mulai dari kota hingga kampung pinggiran; mulai dari tingkat elite hingga level akar rumput. Korupsi telah membudaya, akrab dan lekat dengan masyarakat. Memang tidak semua orang melakukan korupsi, tapi efek yang ditimbulkannya bisa dirasakan bersama.

Selain kemiskinan dan pelanggran HAM, ada satu kenyataan paling ditakuti kaitannya dengan budaya korupsi, yaitu masa depan generasi muda. Mengingat seringnya kasus-kasus kasus korupsi menghiasi head-line media massa baik koran, televisi maupun website, tidak menutup kemungkinan akan mencuci otak generasi muda sehingga mereka cenderung menganggap korupsi sebagai kenyataan yang wajar, atau budaya yang legal. Jika hal ini terjadi, maka semakin kecil harapan bangsa ini untuk segera terbebas dari belenggu budaya korupsi yang rumit.

Telah banyak usaha dijalankan, tapi hingga kini belum ada tanda-tanda kepunahan budaya korupsi. Telah banyak para koruptor diungkap dan dimeja-hijaukan, tapi selau muncul generasi koruptor yang lebih muda dan bersemagat. Gugur satu tumbuh seribu. Korupsi rupanya bukan masalah dangkalnya ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan karena kecelakaan mental stadium lanjut.

Mengatasi kebudayaan korupsi, tampaknya kita perlu belajar pada teori-teori mengenai penjajahan atau pergeseran budaya. Sebuah budaya itu akan bergeser dan musnah karena tiga hal: bencana alam, peperangan, dan adanya pengaruh kebudayaan lain. Hal pertama dan kedua jelas tidak sesuai dengan keadaan kita saat ini. Bencana alam sudah sering terjadi, sementara peperangan tak akan pernah terjadi. Maka satu-satunya jalan adalah dengan mendatangkan budaya tandingan yang tak kalah tangguh, dalam hal ini, budaya baca.

Diakui atau tidak, sejauh ini, generasi muda kita belum sampai pada tataran membaca sebagai budaya dan kebutuhan. Hal ini bisa dilihat pada hasil survey Taufik Ismail terhadap anak-anak SMA di beberapa negara mengenai jumlah bacaan buku sastra, yang menempatkan anak-anak Indonesia sebagai generasi 0 buku.

Membaca adalah kegiatan menyerap ide, mengasah imaji dan intuisi, mengembangkan wawasan dan pengetahuan, dan mencari kebenaran suatu masalah. Membaca tidak cukup hanya dengan mengenal huruf dan angka, tapi dibutuhkan kesabaran dan konsentrasi. Menurut Sindhunata, membaca adalah upaya memetik ide dan pelajaran untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

Sementara itu, Daniel M. Rosyid, pakar pendidikan Jatim mengatakan, bahwa membaca buku itu mengasah kejujuran, baik kejujuran dalam berpikir maupun bertindak. Membaca buku adalah upaya mencari kebenaran, sebab memang tak ada buku yang ditulis berdasar kebohongan. Untuk hasil yang optimal, kegiatan membaca hendaklah dilanjutkan dengan kegiatan menulis dan diskusi.

Alhasil, membaca akan membuat seseorang menjadi lebih arif dan bijak, berwawasan ke depan dan visioner. Seorang pembaca buku tak akan membenarkan prilaku naif semisal korupsi. Koruspsi tak lain adalah bencana kemanusiaan yang harus dibasmi. Buku-buku memberikan banyak pelajaran tentang kejujuran dan kebenaran.
 
Di negara-negara berperadaban tinggi di dunia, yang minat baca masyarakatnya sangat tinggi, seperti Singapura, Cina, Jepang, Kanada dan lain-lain, nyaris tak ada jalan bagi segala bentuk ketidakjujuran. Kita pun berharap budaya baca akan menggeser dan memunahkan budaya korupsi. Memang tidak mudah jalan ke arah itu, tapi bisa diusahakan dengan keberadaan “keluarga (pecinta) buku” dan pelayanan perpustakaan yang ramah baca. Perpustakaan yang ramah baca tidak hanya berarti bersih dengan sirkulasi udara yang teratur, tapi lebih dari itu, adalah peran pustakawan yang santun, murah senyum dan sapa.

Apakah berarti para koruptor terdidik kita sudah tidak membaca buku? Mungkin mereka masih membaca, tapi sudah lupa bagaimana cara membaca buku yang baik.[]

Tuesday, November 9, 2010

Bacalah Mahasiswa

Taufik Ismail, menemukan kenyataan bahwa generasi muda Indonesia adalah generasi 0 buku. Kesimpulan itu ditarik berdasar penelitiannya bersama Tim Sastra Horizon beberapa tahun silam. Minat generasi muda Indonesia sangat rendah dalam hal mengakses buku, dibandingkan dengan negera-negara lain yang maju.

Hingga saat ini, minat baca khususnya generasi muda, dalam hal ini mahasiswa, bisa dibilang kurang menggembirakan. Mahasiswa yang menjadi ikon kebangkitan bangsa ternyata belum memiliki kesadaran mendalam akan arti sebuah buku. Perpustakaan kampus saat ini, yang mulai mentereng, dilakukan digitalisasi, tampaknya hanya menjadi pelengkap atau hiasan kampus. Perpustakaan digital saja masih belum cukup untuk mendongkrak minat baca mahasiswa. 
 
Di kampus saya, Institut Agama Islam (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, kenyataan miris seperti di atas tak terelakkan. Mahasiswa akan membaca buku saat mendapat tugas menulis makalah. Mereka baru menyerbu perspustakaan. Di hari-hari lain, pemandangan seperti itu tak dapat ditemukan. Alhasil, makalah yang mereka tulis terasa hambar, garing analisis, miskin referensi, ambigu, dan pembahasan tak berkembang. Penyebabnya jelas, karena mereka jarang membaca buku. 
 
Sebagaimana diakui, buku merupakan salah satu instrumen penting bagi sebuah capaian kemajuan generasi. Dengan buku, seseorang akan membuka jendela dunia, mendapat pengetahuan sebanyak mungkin, dan berpotensi melahirkan ide-ide baru yang lebih progresif. Di era ini, di mana tantangan hidup semakin kompleks, membaca buku menjelma sebagai kebutuhan yang sangat mendesak. Sepertinya, mahasiswa sebagai tumpuan harapan bangsa, perlu disadarkan tentang hal ini.

*) Artikel ini telah tayang di Harian Surya, 9 November 2010.

Friday, April 11, 2008

Yuk, ke perpustakaan!

“Pengetahuan sebagian besar tidak didapatkan dari bangku sekolah,
melailnkan dari buku”
(Ajib Rosidi)

“Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukanlah sekolah,
pelajar tanpa buku bagiku bukanlah pelajar”
(Minda Perangin Angin)

Pernyataan Ajib Rosidi dan curhat Minda Perangin Angin tersebut menegaskan betapa pentingnya arti perpustakaan dan membaca buku, yang pada kenyataannya dapat melebihi kegiatan formal (sekolah) dan instruksi guru yang cenderung stagnan dan statis. Bahkan, dalam buku Sekolah Saja tak Pernah Cukup, Andrias Harefa mengilustrasikan guru sebagai pengusaha dalam struktur kerajaan dengan ajaran terkenalnya the king can do wrong, seorang manusia yang seakan tak pernah salah dalam menyiasati proses pembelajaran.

Terus terang, selama ini kita kelelahan karena aspirasi yang tak kesampaian. Aspirasi akan penolakan kita terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan yang terkadang tak sesuai dengan harapan. Aspirasi kita sebagai penikmat pendidikan yang tak kunjung digubris oleh para pembuat kebijakan. Mereka menganggap kita sebagai kaum bisu!

Tentu kita merasa prihatin dengan pendidikan kita yang berkembang saat ini. Kebanyakan sekolah-sekolah kita—diakui atau tidak—terjebak dalam metode pendidikan yang paternalistik, yang menempatkan sebagai objek pendidikan, instruksional, dan antidialog. Murid hanya berperan sebagai “gentong kosong” yang tak berdaya. Demikian pula hadirnya Ujian Nasional (UNAS) yang kontroversial, turut mewarnai dunia pendidikan kita yang sudah carut-marut ini. Bayagkan, kemampuan siwa diuji dengan tiga materi pelajaran, itu pun semuanya pelajaran eksakta. Ini sangat jelas tidak akan pernah mengacu pada terwujudnya tujuan UNAS itu sendiri untuk mengukur keberhasilan pendidikan kita. Mungkinkah keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan tiga materi pelajaran? Para pembuat kebijakan tak pernah mengubris seruan ini.

Benang kusut buku pelajaran juga turut melengkapi beban pendidikan kita. hasil pengamatan Darmaningtyas akan buku pelajaran, tepatnya pada tahun 2005 lalu, mendapatkan bahwa mekanisme pengadaan buku pelajaran penuh dengan nuansa bisnis. Mutu buku kurang begitu diperhatikan oleh para penerbit yang “mata duitan”. Sehingga kemudian, buku pelajaran yang seharusnya mendidik dan mencerdaskan murid, justru membodohkan dan bahkan menyesatkan murid. Apakah dengan bermacam fenomena krusial semacam ini kita “lebih baik tidak sekolah?”.

Jika di sekolah tidak terjad proses pendidikan dan pembelajaran yang benar, bahkan membelenggu kreatifitas, mengasingkan dari realitas, mengerdilkan idealisme, membuat bingung, cemas dan lemah, tentu “lebih baik tidak sekolah”. Karena belajar yang sesungguhnya bisa terjadi dengan siapa pun, di mana pun, dan kapan pun ketika ada kemauan yang kuat untuk membengun kompetensi diri (Sujono Samba, Lebih Baik tidak Sekolah, Yogyakarta: PT. Lkis Pelangi Aksara, 2007, hal. 28). Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Bahruddin: “boleh putus sekolah asal tidak putus belajar”.

Hijrah ke Perpustakaan

Masuk ke perpustakaan merupakan salah satu keharusan bagi orang yang ingin berpendidikan, bagi yang ingin bebas dari belenggu kebodohan dan keterpurukan. Di perpustakaan, kita bisa melahap berbagai sajian ilmu pengetahuan yang kita inginkan. Di perpustakaan, kita akan menemukan kedamaian belajar, tidak merasa terkekang, dan bebas mengekpresikan potensi yang kita miliki, selama masih dalam batas kewajaran. Di perpustakaan puka, tak ada istilahnya paternalistik, sentralistik dan tetek-bengek yang lainnya.

Perpustakaan merupakan khazanah keilmuan masa lalu dan sekarang. Potensi perpustakaan sangatlah besar dalam melahirkan insan-insan cendekia, dan para akademisi yang peka terhadap realitas kehidupan. Sungguh banyak para tokoh negri ini yang tak tuntas sekolah altaul bahkan tak pernah duduk di bangku sekolah, tapi mereka malah menjadi orang yang diorangkan oleh orang-orang, melebihi mereka yang pernah duduk di bangku sekolah.

Kita tahu dengan Pak D. Zawawi Imron, sastrawan dan budayawan Madura. Pak Zawawi adalah tamatan Sekoplah Dasar (SD). Setelah itu dia tidak pernah melanjutkan sekolah lagi. Pak Zawawi menghabiskan hari-harinya dengan banyak membaca buku, baik buku sastra , budaya, dan lain sebagainya. Dan sekarang, Pak Zawawi telah sangat kita kenal sebagai penyair nasional. Karena sebelumnya, Pak Zawawi kerap mendapatkan berbagai penghargaan, baik nasioinal maupun internasional, dalam bidang sastra (Periksa di “biografi tokoh” di id.Wikipedia.org). Hal yang semacam ini, belum tentu bisa didapatkan oleh para alumnus sekolah.

Demikian pula kita mengenal Ajib Rosidi. Dialah yang mengatakan bahwa sebagian besar ilmu pengetahuan tidaklah diperoleh dari bangku sekolah, melainkan dari buku, dari perpustakaan. Dia masih termasuk orang yang pernah duduk di bangku sekolah, namun tak tuntas. Dia berani mengambil keputusan untuk berhenti sekolah. Hal itu dia lakukan karena melihat kebanyakan dari teman-temannya yang sekolah hanya untuk dapat ijazah, pekerjaan, plus makan. Bahkan Ajib Rosidi menegaskan bahwa “saya akan bisa hidup tanpa harus sekolah!”.

Hal ini terbukti ketika Ajib Rosidi dewasa. Ajib Rosidi tak pernah melamar pekerjaan, tapi pekerjaanlah yang melamar Ajib Rosidi. Bahkan orang yang berani putus sokolah ini, pernah menjadi guru besar di salah satu universitas ternama di negara Matahari, yaitu Jepang. Wow, fantastic!

Mungkin kita akan bertanya-tanya, mengapa Ajib Rosidi bisa demikian? Tidak lain jawabannya adalah karena ia rajin membaca buku, rajin masuk perpustakaan (Ajib Rosidi, dalam Bukuku Kakiku, Jakarta: Gramedia, 2004. hal. 01).

Masih ingatkah kita dengan sejarah Bill Gates, yang kita kenal sebagai “manusia komputer?” dia tidak pernah duduk di bangku sekolah. Tapi, dia menjadi orang kaya dan paling sukses dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang alumnus sekolah. Apa yang dilakukan Bill Gates? Kita penasaran? Hanya bermodal akal dia berpikir dan merenung, mengapa gesekan logam dapat memercikkan api?

Betul, Bill Gates bukanlah insan perpustakaan. Tapi bagaimana pun, ini adalah bukti yang lebih dari cukup bahwa untuk menjadi orang sukses dan berguna bagi dunia, tidak harus sekolah! Kita dapat belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan cara apa saja. Dengan buku? Juga bisa! Ingatlah pengakuan Rosihan Anwar: “buku berarti penting bagi pencerqaha diri. Dengan membaca buku, saya mendidik diri sendiri. Saya tidak menyandang gelar kesarjanaan. Dengan buku saya otodidak. Dengan buku saya otodidak sepanjang hayat” (Rosihan Anwar, dalam Bukuku Kakiku, Jakarta: Gramedia, 2004, hal. 322).

Tapi ngomong-ngomong, apakah sekolah anda punya perpustakaan? Kalau tidak, simaklah dengan baik pesan Prof. Dr. Darji Darmodiharjo. Mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, itu berpesan: “ Perpustakaan sekolah itu harus ada pada tiap-tiap lembaga pendidikan. Bila tidak ada ruang perpustakaan, pakailah salah satu ruang kelas. Jika ruang kelas tidak ada, pakailah ruang pojok dengan rak bukunya. Jika tidak ada ruang pojok? Tutup saja sekolahnya!”. Wallahu a’lam bisshawaab.

* Tulisan ini saya sampaikan dalam acara "Dialog Pendidikan: Antara Sekolah dan Perpustakaan". Di Lembaga Pendidikan Pesantren Ar-Rohmah Jaddung Pragaan Sumenep, Sabtu, 16 Februari 2008.